Selain Air Tidak Mengalir, Warga Juga Tanya Kepastian Pemasangan PDAM
POSKOTAKALTIMNEWS.COM,BALIKPAPAN- Untuk menampung
aspirasi masyarakat, Anggota DPRD kota Balikpapan Drs Syarifuddin Oddang
menggelar kegiatan reses masa sidang II tahun 2022 di halaman RT 55 Kelurahan
Muara Rapak, Balikpapan Utara (Balut), Senin (20/6/2022).
Dalam reses, pihaknya mengundang beberapa
pihak terkait yakni dari Perwakilan Dinas Pekerjaan Umum (DPU), PDAM, Dinas
Pendidikan dan Kebudayaan, kelurahan dan RT setempat.
Adapun aspirasi yang disampaikan warga, yakni
perwakilan RT 2 Muara Rapak Kaslan kepada PDAM, bahwa sudah ada 37 rumah di
Padat Karya yang diajukan, tetapi sampai sekarang belum ada jawaban. Maka itu
ia pertanyakan kapan PDAM itu bisa terpasang.
"Lalu masalah pengecoran jalan, yang
sudah pernah disurvei pihak terkait, tapi belum terealisasi juga," ujar
Kaslan.
Ditambah Ketua RT 55 Muara Rapak Prayetno
yang mempertanyakan bagaimana caranya agar RT di kota Balikpapan memiliki bank
sampah. Dimohon agar bisa disampaikan ke wali kota Balikpapan.
Lanjut Ketua RT 49 Muara Rapak Sigit mengeluhkan
masalah pendidikan dan kerusakan jalan di klamono yang sudah lama rusak dan
berlubang hingga memakan korban. Serta mengeluhkan air PDAM yang tidak
mengalir.
Usai reses, Syarifuddin Oddang menanggapi,
untuk mengawal aspirasi masyarakat ini sudah pasti, hanya saja ia kembalikan
kepada UPT. Salah satunya masalah pendidikan dari tahun ke tahun selalu
terjadi. Dan ia mengetahui bahwa pembangunan sekolah di Balikpapan Regency
sampai hari ini (20/6) belum terselesaikan, itu penyampaian dari dinas.
"Ini supaya warga tidak selalu menunggu,
contoh dikilometer 7 ada SD dan SMP terpadu, yang ada sekarang dipaksakan
dibuka karena butuh, tetapi kenyataannya belum memadai," ujar Oddang
sapaan akrabnya.
Sementara untuk solusinya, bagaimana dinas
bisa mendampingi sekolah-sekolah swasta. Lalu turun ke lapangan untuk
memastikan kemauan masyarakat seperti apa, ditambah dengan peningkatan mutu dan
kualitas dari sekolah swasta.
"Kemudian berbicara dengan pembiayaan,
itu yang diperlukan masyarakat," jelasnya.
Sedangkan untuk masalah infrastruktur, warga
mengeluhkan kerusakan jalan klamono yang belum ada realisasinya. Bahkan sudah
beberapa kali ditinjau ke lapangan tidak ada solusi, karena tidak bertemu
dengan pihak pertamina.
"Maka itu saya minta untuk bersurat, bagaimana
caranya kita bertemu, agar CSR-nya bisa membantu merealisasikan jalan
ini," akunya.
Kalau masalah PDAM, pihaknya menyampaikan
kalau pipanya banyak yang keropos berapa anggaran yang digunakan. Tentu hal ini
tidak memberikan solusi untuk masyakarat.
"Menurutnya ini adalah PR kita,
mengingat sudah ada 3 titik (waduk manggar, teritib dan aji raden) yang memang
kekurangan pompa," imbuhnya.
Terkait dengan penumpukan sampah yang setiap
harinya makin bertambah, warga berharap dalam Perda sampah setiap kelurahan
memiliki bank sampah, hal ini untuk mengurangi jumlah sampah yang dibuang
langsng ke TPA. Karena dengan begitu, masyarakat bisa memilah sampah dengan
baik. (ari)